twitter
rss



UNTUK DI RENUNGKAN

Seorang ibu berkata pada saya,
"Duuuh..gimana masa depan anak2 kita nanti ya. Sekarang aja udah segini banyak orang. Apalagi di masa depan? Persaingannya lebih gila lagi. Apa anakku bisa berkompetisi?"
Sy tersenyum.
Ibu ini dilimpahi materi berlebih. Sekolah borju, lengkap dengan supir pribadi, tersedia buat anak2nya. Belum lagi aneka les ini itu diberikan ke anak2nya. Mulai les matematika, olahraga, sampai seni. Dan entah apalagi.
Tapi ternyata masih bisa galau juga
Padahal...
Ada yg lebih penting daripada sekedar 'agar bisa berkompetisi'
Yaitu...
Perasaan diterima.
Perasaan dihargai.
Perasaan dicintai.
Perasaan dimengerti.
Perasaan percaya diri.

Inilah yg bisa menyulap seorang Thomas Alva Edison menjadi seorang inventor legendaris.
Inilah yg bisa menyulap seorang Albert Einstein menjadi seorang fisikawan yg mengubah sejarah dunia.
Inilah yg bisa menyulap seorang Leonardo Da Vinci menjadi seorang jenius legendaris yg menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus.
Dan..ini juga yg mampu menyulap seorang Hellen Keller menjadi motivator terbesar dlm sejarah.


Padahal...
Edison dulunya adalah anak yg 'idiot' menurut gurunya. Saking idiotnya, sampai sang guru melarangnya sekolah lagi.
Padahal..
Einstein tadinya adalah anak yg telat bicara. Sulit mengikuti pelajaran sekolah. Mengidap sindrom asperger. Dan 2x gagal lulus sekolah.
Padahal..
Leonardo Da Vinci tadinya adalah anak yg kesulitan membaca dan menulis. Huruf-huruf itu bagaikan menari di matanya.
Padahal..
Hellen Keller adalah anak yang 'masa depannya sudah tamat' karena beberapa cacat yg diidapnya sekaligus: buta, tuli, bisu.

Untunglah anak-anak ini punya orangtua yg penuh cinta dan yakin 100% pada kecerdasan dan kemampuan anaknya. Menerima mereka apa adanya.

Bayangkan bila orangtua mereka sekedar memikirkan "cara anak berkompetisi"?
Dan kemudian kecewa luarbiasa saat menemui anak-anak ini gagal dan gagal lagi di sekolahnya...
Akankah dunia mengenal nama-nama jenius ini kelak?
(IA/FB/XI/TCAP/15)

0 comments :